Desa Datah di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, memegang reputasi khusus sebagai penghasil gula Bali asli yang istimewa. Berbeda dari wilayah lain, gula Bali yang dibuat di sini dikenal dengan cita rasa yang lebih manis serta warna yang lebih cerah dan terang, hal tersebut dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan yaitu tuak murni dari pohon kelapa tanpa campuran bahan lain.
Proses pembuatan gula merah oleh perajin di Desa Datah masih menggunakan metode tradisional yang penuh ketelatenan. Salah satu perajin legendaris, Ni Nyoman Kerti, telah menjalani proses ini selama belasan tahun secara mandiri, mulai dari memanjat pohon kelapa untuk mengambil tuak, merebus tuak tersebut hingga mengental selama lebih kurang dua jam dengan menggunakan kayu bakar, hingga akhirnya mencetaknya dalam cetakan khusus yang dibuat dari batok kelapa. Gula yang sudah dicetak kemudian harus didiamkan sekitar 12 jam agar mengeras sempurna. Metode ini tidak hanya menjamin kualitas yang baik tapi juga mengandung nilai budaya yang tinggi.
Meskipun produksi gula ini terkadang menghadapi tantangan, seperti cuaca yang dapat mempengaruhi kualitas tuak, perajin tetap memberikan hasil terbaik secara konsisten. Produk gula Bali dari Desa Datah dipasarkan dengan harga yang terjangkau dan menjadi primadona terutama saat hari raya, ketika permintaan melonjak sementara hanya ada sekitar sepuluh perajin di daerah tersebut. Permintaan tinggi dari konsumen lokal dan penjual jajanan tradisional menegaskan posisi gula Bali Datah sebagai komoditas penting yang mendukung mata pencaharian masyarakat sambil melestarikan tradisi setempat.
Gula Bali asli Desa Datah bukan sekadar bahan makanan, melainkan juga representasi dari kesabaran dan kecintaan masyarakat pada tradisi serta kualitas alami. Rasanya yang manis dan warnanya yang lebih cerah memberikan sentuhan khas yang membedakan gula ini dari produk lain di pasar Bali, menjadikannya pilihan favorit bagi mereka yang mencari kualitas dan keaslian dalam setiap rasa.
Gula Bali Datah juga menjadi produk penting di masyarakat lokal, terutama saat hari raya dimana permintaan meningkat pesat sementara jumlah perajin hanya sekitar sepuluh orang. Penjualan gula tidak hanya dilakukan secara lokal tapi juga dikirim ke pedagang jajanan tradisional, sehingga turut menjaga kelangsungan perekonomian desa sekaligus melestarikan budaya tradisional. Gula ini bukan sekadar pemanis tapi juga warisan kultural yang menonjolkan rasa khas Bali.
Sumber: Detik Balidetik
